Refleksi

August 20, 2007

4 tahun meniti kehidupan kembali di ibukota

Waktu berlalu begitu cepat.
Hampir 4 tahun aku kembali menginjakkan kakiku di ibukota.
Kota yang padat, macet, penuh polusi.
Segala sesuatu berjalan begitu cepat.
Tidak ada waktu untuk berhenti sejenak, walaupun hanya sekedar untuk menghela napas.
Bahkan untuk menoleh sekalipun.

Dulu, aku sempat terhenyak.
Sulit untuk menerima perbedaan ini.
Aku rasa, aku sudah terbiasa dengan hidup yang tenang.
Dimana waktu berjalan apa adanya.
Memberiku kesempatan untuk menikmati ciptaan Tuhan.
Menghargai apa yang telah diberikan olehNya untukku.

Ya, sesungguhnya, kesenanganku ada pada alam.
Langit dengan matahari yang bersinar terang.
Awan yang berarak.
Bulan yang menyapa di kala malam tiba, dan ditemani dengan kerlap-kerlip bintang.
Hamparan sawah yang berbaris rapi.
Pantai dengan pasirnya yang putih dan ombak yang bergulung mendekat.

Masih lekat di benakku betapa aku menyukai saat sore hari tiba.
Duduk di tepi pantai.
Melihat keindahan terbenamnya matahari di ufuk barat.
Perpaduan warna yang indah.

Selain itu, kesukaanku juga ada pada anak-anak. Murid-muridku.
Mendengar ocehan mereka.
Pertanyaan-pertanyaan polos.
Antusiasme mereka dalam belajar.
Suara mereka memanggilku,”Kak” atau bahkan “Miss”.

Hm, betapa aku merindukan semua itu!
Bahkan aku seringkali bepergian seorang diri, hanya untuk menikmati hariku.
Walaupun itu hanya duduk di pinggir jalan dan berbincang-bincang dengan orang yang tidak aku kenal.

Aku pun bisa langsung menggoreskan penaku, entah itu untuk menulis atau membuat sebuah gambar.
Memang tidak sempurna, tapi setidaknya aku bisa mencurahkan apa isi hatiku.
Aku menghargai setiap momen yang kualami.

Tapi itu semua ada di masa laluku.
Kenangan yang tak mungkin akan kulupakan.
Saat aku belajar untuk menghargai apa yang kumiliki.
Menuju pendewasaan diri.

Bukannya aku tidak menghargai apa yang kumiliki sekarang.
Tapi semua berbeda.
Walaupun tertatih-tatih, aku berusaha untuk menikmati semua ini.
Mengikuti langgam hidup di ibukota yang berwarna-warni.
Bercengkerama dengan teman di café, walaupun hanya sekedar untuk minum secangkir susu coklat.
Menjejakkan kaki dari satu mal ke mal lainnya.
Berwisata kuliner.
Dan menatap tontonan layar lebar.

Beda memang.
Bahkan kadangkala semua itu tidak bisa menghilangkan rasa hampa di dada.
Tetap ada yang kosong di dalam.
Dan aku rasa aku membutuhkan waktu untuk menemukan keindahan di dalamnya.
Aku harus menemukannya!

2 tahun mencoba untuk memahami idealisme diri

Jika aku ingat saat aku baru lulus kuliah, aku tahu aku memiliki satu idealisme.
Walaupun aku juga tidak tahu apakah ia layak disebut idealisme atau tidak.
Yang aku tahu adalah aku memiliki satu tujuan, satu pemikiran, satu impian.
Tidak peduli dengan perkataan orang, pemikiran orang.
Aku harus mewujudkannya.
Aku harus meraihnya.

Ternyata, alam semesta berpihak kepadaku.
Ia membantuku untuk mewujudkannya.
Aku mulai memasuki dunia yang akan membawaku menuju tujuanku.
Senang, itulah yang kurasakan.
Dengan semangat, aku melakukan yang terbaik bagi dunia baruku ini.
Semua demi terwujudnya idealisme diri.

Sayangnya, aku mulai terusik dengan ‘tikus pengganggu’.
Mengapa harus ada tikus pengganggu? Sebal.
Sangat menggangguku dalam mewujudkan idealisme diri ini.
Aku mencoba untuk tetap bertahan pada idealisme diriku.
Tapi aku tidak bisa mentolerir ‘tikus pengganggu’ itu!

‘Tikus pengganggu’ itu mengagung-agungkan idealisme diri mereka, padahal itu semua BOHONG!!
Yang mereka inginkan hanyalah untuk mengeruk keuntungan semata.
Sungguh ironis memang. Mereka bertopeng!
Tapi beginilah kenyataannya.

Aku pun mulai mengalami krisis eksistensi diri.
Tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Aku mulai tenggelam di dalam kebisuanku.
Sementara yang disukai adalah orang-orang yang bisa berkoar-koar.
Walaupun mereka hanyalah sekedar ‘tong kosong yang nyaring bunyinya’.

Aku berusaha untuk bangkit, mencoba melawan semua itu.
Tapi sulit. Aku tidak bisa. Sepertinya semua sudah terkondisikan.
Entah apa yang membuatku begini. Aneh.
Aku rasa, untuk saat ini aku hanya akan duduk manis.
Menunggu keajaiban datang menghampiri.

- 200807, 1.30 am -

3 Responses to “Refleksi”

  1.   Melda Lamtiur said:

    satu komen gw: dalem, cuy…!

    he5. btw, sejak lo d jakarta ka, lo mengisi hari2 gw, malem minggu kita… yg seru. hi5. kalo ga ama dikau, gw mana bole cabut keluar lagi… dikau sudah berkontribusi besar dalam kehidupan malam gw, ka. ha5.

  2.   bETTy said:

    Walah Mel..Mel..
    Sesungguhnya gw blh keluar jg krn ada elo n Thurton,,
    Kl g bareng kalian,, gw mana boleh keluar!!!??!!
    Ha3.
    Kita adl keluarga yg unik *hehe*

  3.   jojon said:

    Ternyata guru ya… Hebat…

Leave a Reply